Latest Event Updates

Stop Aja deh, Nanti capek Loh..

Posted on Updated on

Selamat Pagi teman-teman, lama juga gak mampir ke sini. sekalinya mampir bolehlah ya share cerita dikit 😀

Aku cuma mengamati apa yang ada di sekitarku selama sebulan terakhir. Aku tahan-tahan gak pengen cerita ke siapa pun tentang apa yang ku alami dan apa yang di alami oleh beberapa teman. Akhirnya ku putuskan berceloteh manja di tempat ini. Jadi gini…

Berbicara soal kemampuan dan keberuntungan kadang tidak berbanding lurus seperti apa yang kita bayangkan. Saat diri ini merasa lebih baik dari orang lain, kita akan merasa mampu melakukan yang terbaik dan lebih baik dari apa yang orang lain lakukan. Kadang tolak ukur kita untuk menyelesaikan sesuatu adalah dari sebesar apa kemampuan yang kita miliki dibandingkan orang lain. Setiap dari kita pasti pernah merasa seperti ini. Apalagi saat kemampuan kita diakui oleh orang lain. Pujian datang dari segala sudut, sampai akhirnya kita melambung tinggi dan lupa bahwa hidup ini selalu berproses.

Kadang jeleknya kita adalah selalu menilai kemampuan orang dari suatu hal yang kita kuasai dan itu belum tentu bisa dilakukan orang lain. Dari sinilah kita langsung men-judge orang itu tidak mampu. Ini adalah keegoisan yang sering kita lakukan. Selalu merasa lebih dibandingkan orang lain, padahal itu bukan di bidang yang dikuasainya. Kita boleh merasa hebat atas diri orang lain saat itu di ukur dari bidang yang sama. Jika tidak, itu gak adil dong namanya. Iya kan?

Saat kita sudah merasa lebih hebat dari orang lain, kadang kita suka lupa jika hidup itu selalu penuh dengan proses. Orang yang kita anggap tidak mampu bisa jadi diam-diam lebih tekun dari kita dan bahkan dia akan menjadi lebih baik dari kita. Sekali lagi, dengan gengsi kadang kita tidak mau mengakui itu. Apapun yang terjadi kita tetap merasa lebih baik dan ingin tetap di posisi yang terbaik.

Satu hal yang sering kita lupakan, yaitu berdo’a. Ambisi untuk selalu menjadi yang terbaik kadang membuat kita lupa bahwa setiap keberkahan datangnya dari Tuhan. Setiap rezeki yang kita nikmati datangnya juga dari Tuhan. Sebesar apapun usaha kita jika Tuhan tidak menghendakinya, maka itu tidak akan terjadi.

Jika suatu saat orang yang kita remehkan bisa menjadi lebih baik, jangan pernah kita berpikir negatif tentangnya. Bisa jadi dia membesarkan do’a dan usahanya tanpa sepengetahuan kita. Sedangkan kita masih berjalan di garis yang sama tanpa disertai do’a dan usaha berlebih.

Dear teman,…

Hidup itu terus berlanjut, jadi jangan dangkalkan pikiran kita dengan pikiran negatif yang akan membuat kita banyak mengandai-andaikan datangnya hal buruk kepada orang lain. Do’akan yang terbaik untuk dia, karena saat itu kita juga sedang mendo’akan diri sendiri.

Jadi berhentilah merendahkan orang lain dan menganggapnya lemah. Kita akan capek sendiri jika mengurusi mereka. Tidak hanya capek hati, tapi juga capek pikiran. Lebih baik perbaiki diri sendiri, hebatkan proses yang kita lewati, syukuri apa yang kita miliki dan hidup damai akan menghampiri. 🙂

“Jangan terbang terlalu tinggi saat kamu sedang mendapati sebuah pujian, dan jangan pernah tumbang saat kamu sedang diremehkan dan dipandang sebelah mata”

Advertisements

UMI MAHMUDAH

Posted on Updated on

Untuk kau yang menjelajahi keadilan

Melalui palu yang dipinjam pada hakim bijaksana

Itulah seribu pencarian ketetapan

Maka, kau melukis makna, mengharap tiada yang mencuat dari mereka

Andai niat bisa ditelusuri

Hampa tak ‘kan kau temui

Mereka, mulai merangkai tanda tanya

Untuk kau, ikutilah arus kisah di seberang sana

Di sini kau merefleksi beberapa rahasia

Antara percaya atau mengabaikannya

Harapan terbaik, selalu kau pulangkan pada sang kuasa

Terima kasih…

Balasan yang bagus, lain kali kita panjangkan lagi nama orang-orang buat bahan percobaan  😂

Ramadhan

Posted on Updated on

maaf

Jauh-jauh hari aku sudah merindumu
Aku selalu merindumu,
Berharap akan berjumpa lagi denganmu tahun ini
Berharap akan terjalin hubungan yang lebih baik dari kemarin
Berharap setiap menitku berupa kebaikan bersamamu

Kau semakin mendekat,
Semakin dekat,
Semakin dekat,
Semakin dekat,
Semakin dekat,

Seperti tak lagi bersekat,
Semakin hebat rasa rinduku padamu
Semakin aku segera ingin bertemu denganmu
Berharap kita masih berjodoh Read the rest of this entry »

Tamu Baru

Posted on Updated on

ujian SBMPTN

Hari ini aku kedatangan tamu. Yolanda namanya. Dia sepupu dari sahabat karibku Faisal. Kami bersahabat baik, perjalanan persahabatan kami terjalin tanpa sebuah kesengajaan. Berawal dari sebuah mak comblang, namun bukannya saling terikat cinta, kami justru lebih nyaman untuk menjadi sahabat sampai saat ini.

Yolanda baru saja lulus SMA. Dia datang ke Jember untuk mengikuti tes SBMPTN besok lusa. Di Jember hanya Faisal yang dikenalnya, karena dia perempuan jadi Faisal menitipkannya padaku. Tanpa merasa terbebani aku mengiyakan kamarku menjadi tempat bermalamnya sampai ujian selesai.

Kedatangan Yolanda mengingatkanku tentang sebuah perjalanan yang pernah ku lalui tiga tahun lalu. Bedanya mungkin saat itu aku berangkat tes seorang diri, dan dia ditemani oleh ayahnya. Mungkin karena faktor jarak yang cukup jauh, jadi dia harus ditemani Sang Ayah.      

Keinginannya untuk bisa diterima pada tes SBMPTN ini sangat besar. Semangat ini juga yang saat itu membakarku untuk tidak mau kalah dengan peserta yang lain.

Duduk diantara ribuan peserta ujian SBMPTN. Menatap lembar biodata yang menakutkan. Membaca petunjuk ujian mengerjakan soal. Semua itu sangat menyeramkan bagiku.

Dan malam ini ku lihat wajah gugupku tiga tahun lalu pada Yolanda. Sesaat setelah dia tiba di kosanku dia langsung membersihkan diri dan kembali belajar. Aku tau apa yang sedang dia rasakan. Takut gagal, gugup dan merasa terbebani.

Seperti ini perjuangan yang harus ku rasakan dulu. Tak patut jika aku bermalas-malasan. Ada satu kursi yang sudah ku perebutkan saat itu. Ada keringat, ada perjuangan dan ada pengorbanan yang tidak mudah.

Yolanda, kamu bagai malaikat yang dikirim Tuhan malam ini untuk menegurku yang banyak mengeluhkan perkuliahanku. Padahal dulu semangatku juga sama sepertimu. Sangat menggebu-gebu. Hanya tinggal bersyukur saja kenapa aku harus banyak mengeluh.

 

Puasa Hp Empat Jam

Posted on Updated on

Mau cerita dikit,

Hari ini, eh bukan hari ini sih. Momennya hanya sore ini aja sebenarnya. Adik kosku namanya Tata berulah lagi sore ini. Anaknya cantik tapi sayang agak lemot dikit, intensitas pikunnya satu level di atas Umi hehehe *maaf ya Ta,,,

Untuk kesekian kalianya dia bertingkah konyol yang pasti bikin aku kesel dan geram. Mau marah tapi ya gimana, … sebenarnya lucu juga jadi gak tega mau marah-marah :-).

Hari ini Tata ada pertandingan basket antar Program Studi, karena dipaksa mau gak mau dia ikutan Dekan Cup. Pertandingan basketnya masih jam 16:00, tapi ribetnya dia udah mulai jam 14:55. Beda banget sama aku wkwkkwk. Aku lebih suka on time atau nggak seringnya sih out time. 

Awalnya aku nggak ngerti kenapa dia sliwar -sliwer di depan dapur pas aku lagi masak *kali ini suer masak beneran, bukan masak mi atau ngrebus air lagi. Aku yang risih liat dia sliwar-sliwer langsung aja negur dia, dan akhirnya terjadilah dialog singkat di antara kami.

“Ta, risih tau liatnya, kaya setrika maju mundur” ucapku sambil numis bumbu
“Hehehe, sori Mbak Um. Tata boleh pinjem pulsa? eh maksudnya mau pinjem Hp buat nelpon Anita” sambil pasang wajah melasnya.
“Ambil wis Ta, tuh masih nempel sama charger-nya. Kalau mau nelpon pake SIM 1 aja ya” sambil nunjuk ke arah Hp yang lagi di cas
“Siap bu guru. Em Tata numpang WA sama BBM Anita aja jadi gak usah telpon. Atau Tata telpon lewat WA aja biar nanti gak ganti pulsane sampean” sambil megang Hp dan cengar-cengir
Sak karepmu Ta, pokok kamu seneng”

Kali ini eksperimen pertama buat masak orak-arik, ada bunga kol, wortel, telur, bakso dan sosis *sisa masakan anak kos 🙂. Kalau kasinan ya simpel aja, berarti lagi pengen nikah. Kalau kemanisan ya gak papa, orang yang masak juga manis dan kalau misal ini kepedesan ya anggap aja buat gantiin masakan abal-abal kemarin yang kurang pedes. Udah gitu aja jangan dibuat rumit.

Sesekali ku lirik Tata yang kelihatan bingung nunggu jawaban chat dari Anita.

“Ta, biasa aja tuh muka. Nunggu balesan chat kaya orang lagi nunggu kupon undian aja” celetukku sambil duduk di dekat kulkas.
“Kunci kamar di bawa Anita mbak, Tata gak bisa masuk kamar. Mau ngambil HP sama KTM buat persyaratan dekan cup” sambil mimik sedikit kesal.
“Oo gitu, pinjem kunci Mbak Nita lah Ta, pasti ada duplikatnya kok” ucapku sambil mainin rambut.
“Masalahnya duplikatnya udah Tata minta mbak” ucap Tata.
“Nah terus kok masih bingung. Why?” semakin kepo saja aku bertanya layaknya seorang wartawan gosip.
“Kuncinya di kamar mbak, ada di dalam lemari” muka Tata semakin memelas.
“Ya salah siapa Ta kalau gitu. Pinjem KTM ku piye? Tak pinjemin baju sekalian buat tanding basket Ta hehe…” ucapku sedikit menggodanya. Read the rest of this entry »

Rindu, Boleh?

Posted on Updated on

dua-anak-jalan-bergandengan-tangan1

Kalau aku rindu, bolehkah ku tulis sajak-sajaknya disini?
Bukan ingin mencari sensasi agar kalian tau aku sedang merindu
Hanya saja dengan apa lagi bisa ku luapkan rasa ini
Kalau bukan dengan tulisan
Aku hanya bisa menuliskan rinduku disini
Kalian bisa saja jenuh dengan kisah rinduku
Tapi aku tidak,

Kalau boleh aku bercerita tentang rinduku
Mungkin akan ku tulis setebal novel Herry Potter
Atau bahkan lebih tebal dari itu
Kalian tau?
Jenuh kadang disiksa oleh rindu
Jenuh harus memikirkan cara melepas rindu agar tidak monoton
Dan…
Jenuh jika harus bermelo-melo dengan rindu
Read the rest of this entry »

Rindu part 1

Posted on Updated on

“… bukan dunia yang kejam padamu, tapi kamu yang kurang mengerasi dirimu sendiri agar bisa melunakkan dunia”

Kalimat ini selalu terngiang-ngiang . Entah sampai kapan, yang jelas tidak sesingkat itu melupakan kata demi  kata yang telah diucapkannya. Terakhir ada seuntai senyum yang dilontarkannya saat mengantarku ke terminal.  Bukan sedang berperan dalam drama di FTV, tapi cerita ini mungkin penuh drama. Dia bukan tipikal orang yang banyak bicara, tapi sekali bicara semua yang diucapkannya seperti sebuah isyarat yang kadang tak ku mengerti maknanya. Dan aku seperti sedang beramain teka-teki ketika harus menebaknya.

Saat aku berangkat kuliah Bapak yang selalu mengantar. Tak ada ucapan apapun dari mulutnya. Aku tahu sejak dulu beliau gengsi mengakui kalau sebenarnya beliau juga selalu merindu pada anak-anaknya saat bepergian jauh. Rasa khawatirnya kadang lebih tinggi dari seorang wanita. Seperti ada bagian dari senyumnya saat ada anaknya yang bepergian jauh dari rumah. Beliau sayang keluarganya, aku tahu itu. Tapi entah kenapa beliau selalu gengsi jika harus menunjukkan itu dihapadan keluarga terutama pada anak-anaknya.

Hal ini yang tidak ku mengerti sampai sekarang. Mungkinkah naluri lelaki yang tidak ingin dicap melankolis selalu melekat pada beliau. Cukup dengan tindakan tanpa harus banyak berucap. Mungkin prinsip ini yang selalu dipegangnya. Masih ku ingat bagaimana waktu itu beliau mencoba melepasku mengikuti Jambore. Aku tahu beliau tak tega melihat merpati kecilnya yang saat itu masih 11 tahun harus pergi jauh sendirian untuk kali pertama. Read the rest of this entry »