Rindu part 1

Posted on Updated on

“… bukan dunia yang kejam padamu, tapi kamu yang kurang mengerasi dirimu sendiri agar bisa melunakkan dunia”

Kalimat ini selalu terngiang-ngiang . Entah sampai kapan, yang jelas tidak sesingkat itu melupakan kata demi  kata yang telah diucapkannya. Terakhir ada seuntai senyum yang dilontarkannya saat mengantarku ke terminal.  Bukan sedang berperan dalam drama di FTV, tapi cerita ini mungkin penuh drama. Dia bukan tipikal orang yang banyak bicara, tapi sekali bicara semua yang diucapkannya seperti sebuah isyarat yang kadang tak ku mengerti maknanya. Dan aku seperti sedang beramain teka-teki ketika harus menebaknya.

“…tumben telpon, kenapa? Mau minta kiriman lagi?”, ucapnya

enggak” nadaku yang sedikit jengkel.

“trus?” ucapnya sedikit dingin dan cuek.

apa iya tiap telpon harus bilang minta kiriman, sekali-kali bolehlah bilang kangen ke bapak” nadaku yang mulai menggoda bapak.

“ya boleh-boleh, yang jujur kenapa telpon pagi-pagi?” tanya bapak padaku

“beneran kangen pak, kangen suasana rumah. Kangen diomeli, kangen disuruh-suruh, kangen crewetnya ibu, kangen berantem sama adek. Kangen muka keselnya bapak, kangen semuanya” kataku sambil menahan isak tangis.

Sejenak hening,

Tak ada ucapan apapun dari mulutnya. Aku tahu sejak dulu beliau gengsi mengakui kalau sebenarnya beliau juga selalu merindu pada anak-anaknya saat bepergian jauh. Rasa khawatirnya kadang lebih tinggi dari seorang wanita. Seperti ada bagian dari senyumnya yang hilang saat suasana rumah mendadak berubah. Beliau sayang keluarganya, aku tahu itu. Tapi entah kenapa beliau selalu gengsi jika harus menunjukkan itu dihapadan keluarganya terutama pada anak-anaknya.

Hal ini yang tidak ku mengerti sampai saat ini. Mungkinkah naluri lelaki yang tidak ingin dicap melankolis selalu melekat pada beliau. Cukup dengan tindakan tanpa harus banyak berucap. Mungkin prinsip gila ini yang selalu dipegangnya. Masih ku ingat bagaimana waktu itu beliau mencoba melepasku mengikuti Jambore. Aku tahu beliau tak tega melihat merpati kecilnya yang saat itu masih 11 tahun harus pergi jauh sendirian untuk kali pertama.

Dan sekarang merpati kecil itu sudah terbiasa pergi jauh dari keluarganya. Sampai pada suatu ketika merpati itu sadar rindu beliau memang dituangkan dengan cara yang berbeda. Sosok lelaki kuat yang tak kan pernah ku temukan lagi di sudut kota manapun.

“maaf ndak bisa pulang, masih banyak tugas yang harus diselesaikan Pak” ucapku.

“iya gak papa, pulang saja pas liburan semester” suara ibu yang mulai terdengar menyahut ucapanku.

“dengar ibumu, selesaikan dulu lalu pulang. Jangan pulang dengan menambah beban. Sudah nggak perlu nangis. Ndak ada yang nglarang kamu pergi jauh saat itu. Ini resiko, belajarlah untuk bisa mempertanggungjawabkan setiap keputusan yang kamu ambil. Kami disini cuma bisa mendoakan yang terbaik saja. Wis, bapak mau berangkat. Assalamu’alaikum” ucap bapak dengan nada datarnya.

Suara ibu yang tak ingin ku dengar pagi ini, justru menyahut dari kejauhan. Tumpah sudah air mata yang susah payah ku bendung dengan kelopak mataku. Bukan sedang menunjukkan drama, tapi rindu merpati kecil iini sudah mulai menggunung. Beban dipundak serasa mulai berat, hanya dengan pulang ke rumahlah ku pikir semua beban bisa terasa ringan untuk dihadapi. Terkadang aku bingung bagaimana cara melepaskan rindu saat aku mulai menjadi orang yang melo semelo-melonya. Menelpon mereka ku pikir adalah cara yang baik untuk mengurangi rindu, tapi ternyata aku salah. Setiap aku menelpon, rindu ini semakin menjadi-jadi.

Merpati kecilmu saat ini sedang terjebak untuk memilih jalan pulang, bukan berarti dia tidak bisa pulang. Merpatimu selalu merindu sangkar tempat dimana ia biasa tinggal dan menghabiskan hari-hari disana. Merpatimu bisa pergi jauh, sejauh yang dia inginkan. Tapi dia tidak akan pernah lupa apalagi tersesat untuk kembali pulang dan berkumpul dengan keluarganya.

 

∞∞∞

“bukan tentang kisah yang di dramakan, tapi tentang kerinduan yang tak mungkin bisa untuk di dramakan”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s