Daily Story

Tamu Baru

Posted on Updated on

ujian SBMPTN

Hari ini aku kedatangan tamu. Yolanda namanya. Dia sepupu dari sahabat karibku Faisal. Kami bersahabat baik, perjalanan persahabatan kami terjalin tanpa sebuah kesengajaan. Berawal dari sebuah mak comblang, namun bukannya saling terikat cinta, kami justru lebih nyaman untuk menjadi sahabat sampai saat ini.

Yolanda baru saja lulus SMA. Dia datang ke Jember untuk mengikuti tes SBMPTN besok lusa. Di Jember hanya Faisal yang dikenalnya, karena dia perempuan jadi Faisal menitipkannya padaku. Tanpa merasa terbebani aku mengiyakan kamarku menjadi tempat bermalamnya sampai ujian selesai.

Kedatangan Yolanda mengingatkanku tentang sebuah perjalanan yang pernah ku lalui tiga tahun lalu. Bedanya mungkin saat itu aku berangkat tes seorang diri, dan dia ditemani oleh ayahnya. Mungkin karena faktor jarak yang cukup jauh, jadi dia harus ditemani Sang Ayah.      

Keinginannya untuk bisa diterima pada tes SBMPTN ini sangat besar. Semangat ini juga yang saat itu membakarku untuk tidak mau kalah dengan peserta yang lain.

Duduk diantara ribuan peserta ujian SBMPTN. Menatap lembar biodata yang menakutkan. Membaca petunjuk ujian mengerjakan soal. Semua itu sangat menyeramkan bagiku.

Dan malam ini ku lihat wajah gugupku tiga tahun lalu pada Yolanda. Sesaat setelah dia tiba di kosanku dia langsung membersihkan diri dan kembali belajar. Aku tau apa yang sedang dia rasakan. Takut gagal, gugup dan merasa terbebani.

Seperti ini perjuangan yang harus ku rasakan dulu. Tak patut jika aku bermalas-malasan. Ada satu kursi yang sudah ku perebutkan saat itu. Ada keringat, ada perjuangan dan ada pengorbanan yang tidak mudah.

Yolanda, kamu bagai malaikat yang dikirim Tuhan malam ini untuk menegurku yang banyak mengeluhkan perkuliahanku. Padahal dulu semangatku juga sama sepertimu. Sangat menggebu-gebu. Hanya tinggal bersyukur saja kenapa aku harus banyak mengeluh.

 

Advertisements

Puasa Hp Empat Jam

Posted on Updated on

Mau cerita dikit,

Hari ini, eh bukan hari ini sih. Momennya hanya sore ini aja sebenarnya. Adik kosku namanya Tata berulah lagi sore ini. Anaknya cantik tapi sayang agak lemot dikit, intensitas pikunnya satu level di atas Umi hehehe *maaf ya Ta,,,

Untuk kesekian kalianya dia bertingkah konyol yang pasti bikin aku kesel dan geram. Mau marah tapi ya gimana, … sebenarnya lucu juga jadi gak tega mau marah-marah :-).

Hari ini Tata ada pertandingan basket antar Program Studi, karena dipaksa mau gak mau dia ikutan Dekan Cup. Pertandingan basketnya masih jam 16:00, tapi ribetnya dia udah mulai jam 14:55. Beda banget sama aku wkwkkwk. Aku lebih suka on time atau nggak seringnya sih out time. 

Awalnya aku nggak ngerti kenapa dia sliwar -sliwer di depan dapur pas aku lagi masak *kali ini suer masak beneran, bukan masak mi atau ngrebus air lagi. Aku yang risih liat dia sliwar-sliwer langsung aja negur dia, dan akhirnya terjadilah dialog singkat di antara kami.

“Ta, risih tau liatnya, kaya setrika maju mundur” ucapku sambil numis bumbu
“Hehehe, sori Mbak Um. Tata boleh pinjem pulsa? eh maksudnya mau pinjem Hp buat nelpon Anita” sambil pasang wajah melasnya.
“Ambil wis Ta, tuh masih nempel sama charger-nya. Kalau mau nelpon pake SIM 1 aja ya” sambil nunjuk ke arah Hp yang lagi di cas
“Siap bu guru. Em Tata numpang WA sama BBM Anita aja jadi gak usah telpon. Atau Tata telpon lewat WA aja biar nanti gak ganti pulsane sampean” sambil megang Hp dan cengar-cengir
Sak karepmu Ta, pokok kamu seneng”

Kali ini eksperimen pertama buat masak orak-arik, ada bunga kol, wortel, telur, bakso dan sosis *sisa masakan anak kos 🙂. Kalau kasinan ya simpel aja, berarti lagi pengen nikah. Kalau kemanisan ya gak papa, orang yang masak juga manis dan kalau misal ini kepedesan ya anggap aja buat gantiin masakan abal-abal kemarin yang kurang pedes. Udah gitu aja jangan dibuat rumit.

Sesekali ku lirik Tata yang kelihatan bingung nunggu jawaban chat dari Anita.

“Ta, biasa aja tuh muka. Nunggu balesan chat kaya orang lagi nunggu kupon undian aja” celetukku sambil duduk di dekat kulkas.
“Kunci kamar di bawa Anita mbak, Tata gak bisa masuk kamar. Mau ngambil HP sama KTM buat persyaratan dekan cup” sambil mimik sedikit kesal.
“Oo gitu, pinjem kunci Mbak Nita lah Ta, pasti ada duplikatnya kok” ucapku sambil mainin rambut.
“Masalahnya duplikatnya udah Tata minta mbak” ucap Tata.
“Nah terus kok masih bingung. Why?” semakin kepo saja aku bertanya layaknya seorang wartawan gosip.
“Kuncinya di kamar mbak, ada di dalam lemari” muka Tata semakin memelas.
“Ya salah siapa Ta kalau gitu. Pinjem KTM ku piye? Tak pinjemin baju sekalian buat tanding basket Ta hehe…” ucapku sedikit menggodanya. Read the rest of this entry »

Rindu part 1

Posted on Updated on

“… bukan dunia yang kejam padamu, tapi kamu yang kurang mengerasi dirimu sendiri agar bisa melunakkan dunia”

Kalimat ini selalu terngiang-ngiang . Entah sampai kapan, yang jelas tidak sesingkat itu melupakan kata demi  kata yang telah diucapkannya. Terakhir ada seuntai senyum yang dilontarkannya saat mengantarku ke terminal.  Bukan sedang berperan dalam drama di FTV, tapi cerita ini mungkin penuh drama. Dia bukan tipikal orang yang banyak bicara, tapi sekali bicara semua yang diucapkannya seperti sebuah isyarat yang kadang tak ku mengerti maknanya. Dan aku seperti sedang beramain teka-teki ketika harus menebaknya.

“…tumben telpon, kenapa? Mau minta kiriman lagi?”, ucapnya

enggak” nadaku yang sedikit jengkel.

“trus?” ucapnya sedikit dingin dan cuek.

apa iya tiap telpon harus bilang minta kiriman, sekali-kali bolehlah bilang kangen ke bapak” nadaku yang mulai menggoda bapak.

“ya boleh-boleh, yang jujur kenapa telpon pagi-pagi?” tanya bapak padaku

“beneran kangen pak, kangen suasana rumah. Kangen diomeli, kangen disuruh-suruh, kangen crewetnya ibu, kangen berantem sama adek. Kangen muka keselnya bapak, kangen semuanya” kataku sambil menahan isak tangis.

Sejenak hening,

Tak ada ucapan apapun dari mulutnya. Aku tahu sejak dulu beliau gengsi mengakui kalau sebenarnya beliau juga selalu merindu pada anak-anaknya saat bepergian jauh. Rasa khawatirnya kadang lebih tinggi dari seorang wanita. Seperti ada bagian dari senyumnya yang hilang saat suasana rumah mendadak berubah. Beliau sayang keluarganya, aku tahu itu. Tapi entah kenapa beliau selalu gengsi jika harus menunjukkan itu dihapadan keluarganya terutama pada anak-anaknya.

Hal ini yang tidak ku mengerti sampai saat ini. Mungkinkah naluri lelaki yang tidak ingin dicap melankolis selalu melekat pada beliau. Cukup dengan tindakan tanpa harus banyak berucap. Mungkin prinsip gila ini yang selalu dipegangnya. Masih ku ingat bagaimana waktu itu beliau mencoba melepasku mengikuti Jambore. Aku tahu beliau tak tega melihat merpati kecilnya yang saat itu masih 11 tahun harus pergi jauh sendirian untuk kali pertama. Read the rest of this entry »

Mendekati Semester Tua

Posted on Updated on

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Selamat malam sobat penjelajah dunia maya. Lama banget Umi nggak posting… *sok sibuk ya..

Mau berbagi cerita dikit nih  tentang pengalaman minggu-minggu kemarin. Ceritanya Umi baru aja masuk kuliah semester 6. Kata kating alias kakak tingkat di kampus, semester ini adalah waktu dimana kita akan mulai sok sibuk dan sok rajin banget ngapelin  perpustakaan. Dan… ini fakta bukan cuma wacana. Mendadak Umi jadi rajin ke perpus, sumpah demi apa kaki ini melaju tanpa rem dan langsung nyari ruang skripsi. Masuk ruang skripsi rasanya kaya masuk ruangan sidang *xixixixiiii lebay.

Umi gak mungkin kan ya masuk ruangan horror kaya gitu sendirian, pastinya selalu bawa rombongan pengajian *ups…konyol*. Dan bisa dibilang kita betah banget disana, sampai-sampai kita nggak sadar hampir 4 jam di dalam perpustakaan. Kerenn…*efek kebanyakan gosipin kating dan bingung mau ngapain.

Pas kita sadar kalau selama itu kita semedi di dalam ruang skripsi, al hasil yang kita dapat adalah:

  1. Kebingungan yang semakin menjadi-jadi
  2. Konser bintang di atas kepala
  3. Debat yang nggak jelas, padahal sama-sama cethek pengetahuannya

Ok, itu doang sih.  Dengan kepala sok tegap *biar kelihatan baik-baik aja sih* kita semua pergi meninggalkan ruang skripsi.

Satu pelajaran yang dapat diambil dari kumpulan ibu-ibu pengajian Ulat Bulu  adalah, kita sadar kalau menulis skripsi nggak segampang kalau kita nulis caption  di instagram. Dulu kita selalu tanya ^mbak/mas kapan sempro? Kapan sidangnya?^, sekarang kita nggak mau lagi nanya kaya gitu. Kita tahu batin mereka pasti sangat tersiksa dengan pertanyaan itu, karena sekarang kami juga mulai memasuki tahap yang sama dengan kalian hai para kating yang super kece ganteng dan cantiknya.

Well…

Kita bukan kumpulan bocah-bocah yang bisanya cuma teriak-teriak kaya sporter bola aja, tapi kita akan buktikan kalau kita bisa untuk lulus sesuai target yang udah kita planning. Dan semoga apa yang sudah kita semogakan ini, bukan hanya menjadi ucapan yang semoga belaka. Namun akan menjadi semoga yang disegerakan oleh Tuhan kami yang baik dan asyik dengan semua skenario kehidupannya.

Buat kalian sobat penjelajah dunia maya yang gokil dan keren abis, yang senasib dengan kami penghuni semester 6 tetap semangat dan jangan lupa bahagia. Oiya satu lagi, jangan lupa makan buat para jomblo semester 6. Kalian harus tahu kalau jomblo itu butuh tenaga ekstra untuk berpikir dan menyemangati diri sendiri. Tujuannya sih simpel banget, supaya kebutuhan gizi dan harapan kita bisa berjalan seimbang.

Oiya satuuuu lagi ya,

Ada pepatah kuno yang mengatakan kaya gini “falling down is how we grow, and staying down is how we die” *sokk inggris padahal artine ya emboh hhaaha.

Sobat penjelajah dunia maya ingat ya,.. Tuhan selalu bersama mahasiswa tingkat akhir. So, keep spirit and never give up guys.

Ok cukup Um!! Sudah terlalu banyak yang kamu ocehkan malam ini. Maaf kalau agak norak, tapi ini yang kami rasakan sebagai bagian dari anak yang radak alay.

Selamat malam,

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

pe14

She is Me

Posted on Updated on

Dia adalah Aku

Masih ku ingat perkataan orang-orang di desa nenekku. Mereka bilang aku mirip sekali dengan keponakanku. Banyak yang bilang semua tentangku ada di dia saat ini. Bahkan ibuku sendiri juga setuju dengan perkataan tetanggaku di sana. Mmmmmm bisa jadi sih 😄

Panggil saja dia Putri. Lengkapnya sih Eka Yulia Putri, dia anak pertama dari bulek *adik ibu. Sekarang umurnya 12 tahun, dia sudah kelas enam SD dan sebentar lagi lulus.

Lihat saja,

Kami sama-sama pesek, kulit agak gelap (^.^), sama-sama hiperaktif, nah waktu masih SD aku hobi banget ikut semua kegiatan di SD. Nahh nurun nih sama ini bocah , lanjut … Aku dulu hobi banget manjat-manjat pohon, sama kaya dia. Dan sikap kami yang sangat menonjol adalah kami sama-sama suka makanan pedas, sama-sama bawel dan sama-sama suka guyonan.

Ini nihh yang harus kalian perhatikan saat hamil… Jangan suka benci sama orang, anaknya nanti nurun hhe. Nah  bulek sempat bilang kalau dia dulu gregetan sama aku gara-gara aku nakal bukan main pas kecil. Dan keadaan dulu si bulek ini lagi hamil si Putri. Untung aja sih aku anaknya cerdas, baik, cantik, aktif yang positif, rajin berdoa, sederhana, rajin menabung, cerewet dikit, bawel dikit jadi nurunnya pas banget yang baik-baik. 😂😂 #lolbanget

Yang jelas apa pun itu, aku tetap sayang semua keluarga ku.

Saat kalian diterpa masalah dalam keluarga besar kalian, jangan pernah meninggikan emosi. Karena emosi itu yang akan membakar yang lainnya.

Masih Berjuang di Jember

Posted on Updated on

Two weeks onward with new friends and new experience

Liburan untuk akhir tahun ini mungkin hanya sebatas wacana saja. Banyak kagiatan-kegiatan kampus yang mengharuskanku untuk tetap stay di kota suwar-suwir Jember.

Belajar bijak saja,

Ini adalah pilihan yang ku putuskan dengan pemikiran jauh ke depan. Aku memilih memanfaatkan waktu remajaku untuk menempuh pendidikan  tingkat lanjut di perguruan tinggi negeri. Jadi segala yang berhubungan dengan urusan pendidikan saat ini sudah pasti itulah resiko yang memang harus dihadapi.

Sedikit mengelus dada,

Terkadang terbesit rasa iri yang mendalam. Saat melihat teman sebaya sudah mampu memberikan kado terindah untuk keluarga. Iri saat mereka bisa bermain kesana kemari. Dan iri saat mereka sudah berpenghasilan sendiri.

Tapi aku percaya,

Inilah proses. Berikan yang terbaik, lakukan dan kerjakan dengan hati yang tulus ikhlas. Karena tidak akan ada hasil yang mengkhianati usaha. Aku memang selalu memilih jalan yang berbeda dengan mereka. Yang perlu ku lakukan saat ini adalah terus berjalan mencari mata air yang akan memberikan manfaat.

Pesan dan wejangan orang-orang yang sayang denganku, selalu menjadi motivasi tersendiri. Jangan membuat mereka kecewa dan jangan mematahkan harapan besar yang telah mereka pupuk. Cukup itu saja yang selalu menguatkanku ditanah rantau yang memang jauh dari keluarga besar di Bumi Bung Karno.

Buat kalian yang gagal mem-planning liburan, jangan berkecil hati. Jadikan saja ini sebagai investasi masa depan yang akan membayar kesedihan yang tidak seberapa ini. 🙂

Kita masih berproses, dan nikmati saja setiap detik dari proses yang kita lalui. Karena itu semua akan terbayar oada masanya nanti, disaat yang tepat. See yu on top guys 😄